Memori Duri-ku

Orang bilang, bukan bagus atau indahnya tempat yang membuat hati kembali bahagia mengingatnya, tapi karena memori dan kenangan indah di sana yang kan mengantar pikiran menembus ruang waktu lalu timbul rasa rindu.

Tulisan ini pun untuk menuangkan kembali kenangan saya di Duri, kota minyak itu.

IMG_1583

Parkir sepeda di Masjid Agung Ushuluddin Duri

Hampir setiap hari saya keluar rumah baik sepeda dulu, ke rumah adit di komplek krakatau, rumah babal juga, rumah elmer di komplek merapi, pergi main tenis.

IMG_1601

Halte bis di Kompleks Merapi

Halte ini adalah halte bis tempat saya menunggu bis sekolah setiap pagi saat SD dulu. Setiap pagi akan ada 2 bis yang menjemput, satu tujuan SMP dan yang satu tujuan SD. Bisnya on time

IMG_1673

Snack Bar tempat menjual burger dan sandwich

Di setiap distrik komplek Chevron pasti memiliki snack bar. Mereka menjual burger dan sandwich dan minuman soda. Burger yang dijual tidak seperti burger pada umunya. Mereka meracik sendiri daging burger dengan bumbu ala mereka sendiri. Hasilnya, rasanya top! Continue reading

Buyasuri, Idul Adha dan Pulang

Hari 4. 14 Oktober 2013. Tepat satu hari sebelum Idul Adha 1434 H. Pagi itu saya bangun di Omesuri. Saya dan rombongan bermalam disebuah masjid, kecuali perempuan mereka menumpang di salah satu rumah warga. Perlu diketahui, wilayah Omesuri dan sekitar merupakan wilayah sulit air. Mungkin sebagian kita familiar dengan keadaan itu dari iklan di TV. Ternyata benar. Masjid tempat saya bermalam, memiliki satu tempat penampungan air. Jika hujan maka air loteng akan mengalir kesana. Namun saat ini musim kemarau, sulit air. Alhasil, warga harus membeli air untuk mengisi wadah tersebut khusus untuk kami tamu di sana. Sedangkan kebiasaan warga memang jarang mandi. Sebagian sudah banyak yang berubah bisa sekali sehari atau paling tidak sekali dua hari. Ya, begitulah teman.

Acara hari ini adalah khitanan massal. Jam 08.00 WITA rombongan medis sudah mulai sibuk menyiapkan perlengkapan untuk khitanan massal. Jumlah peserta yang terdaftar cukup banyak. Lebih banyak dari hari sebelumnya. Segala keperluan sudah siap pada pukul 09.00 WITA dan acara pun dimulai. Anak-anak Omesuri satu persatu mulai dipanggil memasuki ruangan untuk siap di eksekusi. Continue reading

Bapak Samanto dan Keharuanku

5 Ramadhan 1435 H. Malam itu seperti biasa setelah makan berbuka, saya berangkat ke masjid Al-ittihad Rumbai. Masjid yang selalu menjadi tempat pilihan shalat taraweh karena diimami oleh Ustadz Murtadho Habibi yang terkenal itu (paling tidak di Pekanbaru). Bacaannya bagus dan merdu. Ramadhan ini adalah ramadhan kelima dengan target 1 juz setiap taraweh dan ramadhan ke 10 beliau di masjid Al-ittihad. Kurang lebih 1 jam 30 menit setiap malamnya.

Pemandangan yang tidak lazim saya temui saat saya bangkit untuk takbiratul ihram. Di samping saya berdiri seseorang yang tidak lebih tinggi dari bahu saya. Berpeci putih, berbaju kotak-kotak (bukan kampanye) dan bersarung putih agak lusuh. Mata saya melirik ke kiri, terlihat keriput kulitnya sebagai tanda ia tak lagi muda.

Ditengah lantunan Ustadz Murtadho Habibi membaca surat Al-Maidah, hati saya sesekali melayang bertanya siapa bapak disamping saya ini. Bagaimana mungkin ada seorang bapak tua yang sengaja memilih berlama-lama shalat taraweh sedangkan banyak pilihan masjid lain yang lebih singkat. Timbul pula rasa khawatir akan tumbangnya bapak itu karena keletihan berdiri. Memang, tubuhnya tidak jarang bergetar menahan lamanya berdiri shalat taraweh malam itu. Continue reading

Larantuka, Lambata dan Khitanan Massal

Hari 3. 13 Oktober 2013. Pagi-pagi saya sudah bangun. Setelah sholat subuh saya membuka jendela kamar yang menghadap pekarangan hotel. Saat matahari mulai terbit, tak sengaja saya melihat pantulan cahaya matahari dari genangan air. Melihat lebih jelas lagi, ternyata tepat di belakang hotel kami adalah laut. Tak pikir panjang, saya ajak Asep untuk berenang di laut.

Nasib tak bisa berenang lama, karena kami harus segera ke pelabuhan untuk mengejar keberangkatan feri pertama ke pulau Lembata. Kami bersiap-siap, sarapan dan tancap ke pelabuhan. Di pelabuhan sudah menunggu feri yang siap mengantar ke pulau Lembata. Konon katanya, feri cepat itu adalah satu-satunya feri cepat yang ada di perairan Larantuka-Lembata, jika kami telat maka kami terpaksa menaiki kapal kayu yang bisa memakan waktu 5 jam menuju Lembata.

Pemandangan Nusa Tenggara Timur khususnya Flores memang jagoan. Perairannya masih bersih dan biru. Di kelilingi pulau-pulau yang berbukit-bukit. Salah satu yang terkenal dari daerah sini adalah perburuan ikan paus, tepatnya di daerah Lamera. Continue reading

Teruskan Saja, Bu!

Belum lama ini, 18 Juni 2014 tepatnya, Surabaya menjadi sorotan nasional. Alasannya salah satu tempat prostitusi di kota itu akan ditutup. Dolly namanya. Seperti kebijakan pemerintah lainnya, baik itu positif maupun negatif, tetap saja akan mengundang banyak orang bicara dan komentar. Negara ini kan negara demokrasi, tak ada salahnya memberi pendapat, toh hanya pendapat. Begitu katanya.

Pertama kali saya mendengar Dolly akan ditutup pada bulan Maret 2014. Saya bersama teman KKN menonton di Youtube salah satu siaran televisi swasta yang menayangkan Ibu Tri Rismaharini, walikota Surabaya itu, dalam wawancara ekslusif. Ditengah acara, Ibu Walikota itu meneteskan air matanya. Ntah kenapa wawancara itu begitu drama-nya, ngalah-ngalahin drama korea yang bikin nangis para wanita. Topik yang sedang dibahas ternyata adalah rencana dan niat Ibu Risma menutup lokalisasi Dolly di Surabaya. Dan terkait itu, Ibu Risma juga seorang wanita yang punya hati dan rasa, terucap keluh dan kesah beliau dengan pernyataan keinginan untuk berhenti jadi Walikota.

Kebijakan penutupan lokalisasi ini harusnya bagai kabar gembira bagi seluruh masyarakat, khususnya saya. Terlepas dari kepentingan dan ilalang yang tumbuh di tepi kebijakan ini, kebijakan ini adalah kebijakan spektakuler. Patut dicontoh kata ibu guru kepada muridnya. Continue reading

We call it as “Home”

Mei 2014, genap satu tahun saya tidak pulang ke Pekanbaru. Rekor terlama bagi saya meninggalkan rumah. Rekor itu terhenti pada angka satu tahun setelah saya menyempatkan pulang akhir bulan ini setelah ujian nasional kedokteran.

Ketika berbicara tentang rumah, selalu saja diiringi dengan perasaan yang saya sebut sebagai kangen. Ya, rumah bagi saya telah menjadi setumpuk kenangan yang selalu indah untuk diulang dalam cerita dan rasa. Memori masa kecil bersama orang-orang tercinta terekam di setiap sudut rumah. Momen canda tawa dan tangis duka pernah saya lalui disana. Saat makan siang yang telah terhidang di meja makan setiap pulang sekolah, kerinduan yang tak kan terobati. Kami tumbuh besar dan belajar disana.

Kepulangan kali ini berbeda. Papa yang sudah pensiun. Mama yang sudah 52 tahun. Kakak yang sedang hamil dan abang yang bekerja di Jakarta. Tidak salah ketika rumah tak seramai dulu lagi. Mama yang ribut ketika rumah selalu jadi berantakan kalau saya dan si abang di rumah. Tidak ada lagi. Anak-anak sudah besar dan dewasa. Continue reading

Suamiku Gila, Salah Siapa?

Kemarin, Senin 13 Januari 2014, saya mendapat giliran jaga IGD di rumah sakit jiwa di kota ini. Awalnya saat kedatangan ibu R sama seperti keluarga pasien lainnya kami wawancara (anamnesis) untuk menggali problem pasien dibawa ke rumah sakit. Hingga di tengah wawancara tersebut saat ibu R mulai menangis, keadaan terasa berbeda dari biasanya. Saya melihat tangisan dari seorang yang hanya ingin didengarkan. Dimengerti dan tak lagi harus mengerti. Dibela dan tak ingin lagi menderita. Dan saya coba mendekati ibu R dan memulai dari awal mendengarkan apa sebenarnya yang terjadi.

Sore itu, ibu R membawa suaminya ke rumah sakit jiwa untuk kedua kalinya. Ditemani ibu mertua dan adik iparnya. Ibu yang merasa nyaman ketika ada kami (dokter muda) yang seksama menyimak ceritanya menjelaskan waktu demi waktu apa yang ia lalui. Continue reading